Zakharia 7-8

Puasa yang Menjadi Berkat

20 September 2026
Pdt. Immanuel Agus Handoko

Terhadap pertanyaan umat tentang ritual puasa (pasal 7), Tuhan menjawab bahwa yang Ia inginkan bukan sekadar ritual lahiriah, tetapi keadilan, kasih, dan kebenaran. Artinya, puasa yang sejati diwujudkan dalam ibadah serta tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pola puasa yang benar bukanlah dengan tidak makan atau minum pada jam tertentu saja, tetapi perubahan dalam cara menjalani hidup, yaitu dengan berhenti berbuat jahat terhadap sesama atau berbuat dosa kepada Tuhan. Berpuasa juga berarti menahan diri dari memuaskan keinginan atau hawa nafsu diri, serta mencintai kebenaran dan damai (8:19).

TUHAN berfirman, "Kalau dahulu kamu telah menjadi kutuk di antara bangsa-bangsa, hai kaum Yehuda dan kaum Israel, sekarang Aku akan menyelamatkan kamu, sehingga kamu menjadi berkat." (8:13). Perintah ini merupakan gema dari perjanjian TUHAN dengan Abraham (Kejadian 12:3) serta merupakan salah satu wujud dari kondisi manusia pertama saat diciptakan, yaitu sebagai gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26-28). Pengulangan perjanjian Allah dengan umat pilihan-Nya di sini menggambarkan konsistensi Allah dalam menjadikan umat-Nya sebagai mitra untuk menghadirkan Kerajaan Allah di bumi ini. Dalam Zakharia 8:16-17, dijabarkan bagaimana umat Allah bisa menjadi berkat, yaitu dengan berkata benar seorang kepada yang lain; menegakkan hukum yang benar; mendatangkan damai; tidak merancang kejahatan dalam hati terhadap orang lain; dan tidak mencintai sumpah palsu. Yang menarik, pernyataan TUHAN itu disampaikan di dalam konteks tentang puasa yang sejati, yaitu yang mewujud dalam sikap hidup sehari-hari. Artinya, TUHAN menetapkan ritual puasa untuk melatih umat-Nya agar menjalani pola hidup Kerajaan Allah, yaitu menjadi berkat bagi yang bukan umat TUHAN dengan menahan diri dari pelampiasan nafsu untuk melakukan segala sesuatu bagi kepentingan diri sendiri serta melatih diri untuk melakukan apa yang TUHAN inginkan.

Adam dan Hawa, Abraham, serta umat Israel gagal memenuhi perjanjian dengan Allah. Umat Allah sering berpuasa dengan mengabaikan tujuan utama, yaitu mendisiplin diri untuk menjalani pola hidup yang berkenan kepada Allah agar menjadi kesaksian bagi sesama. Secara khusus, Tuhan menyoroti dosa yang dilakukan saat seseorang berpuasa, yaitu berpuasa sebagai sekadar ritual ibadah, padahal puasa seharusnya merupakan wujud kesetiaan umat pada perjanjian dengan Allah. Hanya dengan menjalani pola hidup Kerajaan Allah, umat Allah bisa menjadi berkat bagi mereka yang belum percaya kepada-Nya (8:23). Apakah Anda sudah menjalani pola hidup yang membuat Anda menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar Anda?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design