Zakharia pasal 9 adalah pasal pertama dari bagian kedua penulisan kitab ini, yang terutama menubuatkan kehadiran Mesias yang akan menolong umat-Nya. Pasal ini memperkenalkan Mesias yang datang bukan dengan kereta perang yang megah, tetapi dengan menunggang keledai muda. Nubuat ini berbeda jauh dengan pengharapan orang-orang Yehuda pada masa itu, yang sedang dijajah oleh bangsa Persia. Mereka berharap agar Tuhan mengutus penolong yang lebih kuat ketimbang Raja Darius, Akan tetapi, TUHAN Semesta Alam justru akan melawat umat-Nya dengan merendahkan hati. Di kemudian hari, nubuat ini digenapi saat Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem dengan menaiki keledai beban yang masih muda (Matius 21:5; Yohanes 12:15).
Pasal 10 melanjutkannya dengan janji bahwa Allah hadir dan berkarya sebagai Gembala bagi umat-Nya. Sebagai Gembala, Dia akan melawat kawanan domba-Nya dan mengumpulkan mereka kembali dari pembuangan. Penyataan diri Allah ini lagi-lagi berbeda dengan doa dan pengharapan umat Allah. Walaupun gembala akan menjaga domba-domba dengan menghadapi dan mengusir binatang buas seperti serigala, beruang, atau singa yang hendak memangsa domba, gambaran yang mereka harapkan adalah bahwa TUHAN Semesta Alam menunjukkan kekuasaan-Nya yang besar yang akan menghukum dan membinasakan bangsa Persia atau bangsa mana pun yang menganiaya umat Allah.
Gambaran tentang Raja yang memasuki Yerusalem dengan rendah hati dan Gembala yang mengumpulkan domba-domba-Nya adalah dua gambaran yang TUHAN berikan tentang diri-Nya. Walaupun penyingkapan diri semacam ini tidak memenuhi harapan umat Allah pada masa itu, hal itu justru menunjukkan bahwa TUHAN tidak bisa didikte oleh umat-Nya. Dia bukan Allah buatan manusia! Dia berkuasa atas alam semesta dan bertindak berdasarkan keberadaan-Nya yang sempurna. Dia berwewenang untuk melaksanakan apa yang Ia kehendaki dan seluruh tindakannya memperlihatkan bahwa kekuasaan, kebijaksanaan, keadilan, dan kasih Allah tidak saling bertentangan satu sama lain. Oleh sebab itu, TUHAN menyatakan diri sebagai Raja yang rela merendahkan diri, sekaligus sebagai Pemelihara yang akan memulihkan umat-Nya. Hal itu terwujud dalam diri Tuhan Yesus yang rela merendahkan diri sampai mengurbankan diri-Nya sendiri di kayu salib. Dia menyatakan belas kasihan kepada orang-orang yang terbuang. Pemahaman terhadap keberadaan Allah itu seharusnya menjadi sumber pengharapan kita. Saat menghadapi berbagai macam pergumulan dalam hidup Anda, apakah Anda sudah benar-benar mempercayakan hidup Anda kepada Allah?.