Dalam suratnya yang kedua, Rasul Yohanes kembali mengingatkan tentang kemunculan dan pengaruh ajaran sesat yang tidak mengakui bahwa Yesus adalah Allah sejati yang telah berinkarnasi menjadi manusia (1:7). Secara masif, para pengajar sesat ini mendatangi rumah para anggota jemaat untuk memengaruhi dan membelokkan iman mereka. Tampaknya, ada beberapa anggota jemaat ya3ng terseret ke dalam ajaran mereka, lalu meninggalkan iman yang sejati di dalam Kristus. Itulah sebabnya, Rasul Yohanes memperingatkan jemaat agar berhati-hati terhadap mereka. Secara terang-terangan, Rasul Yohanes meminta jemaat agar menolak dengan tegas para pengajar sesat yang mau berkunjung ke rumah mereka, Bahkan, ia menganjurkan jemaat untuk tidak memberi salam kepada para pengajar sesat itu (1:10-11). Sepintas, perintah ini seperti membatasi anggota jemaat menunjukkan keramahan kepada orang lain. Namun, dalam konteks zaman itu, keramahan tuan rumah dalam memberi salam kerap kali dilanjutkan dengan memberi tumpangan (tempat menginap), memberi makanan, memberi dukungan finansial, bahkan memberi kesempatan untuk membagikan ajaran dalam persekutuan di rumah mereka. Bentuk keramahan seperti ini merupakan bentuk dukungan yang selanjutnya berkembang menjadi mengambil bagian bersama para pengajar sesat yang berupaya membelokkan iman yang sejati (1:11). Itulah sebabnya, Rasul Yohanes meminta agar setiap anggota jemaat tidak menerima para pengajar sesat itu.
Di sisi lain, Rasul Yohanes juga memuji para anggota jemaat yang telah hidup dalam kebenaran. Mereka bukan hanya mengetahui kebenaran yang sejati, tetapi juga turut mempraktikkan kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya, Rasul Yohanes kembali mengingatkan mereka akan perintah yang sudah pernah mereka dengar sebelumnya, yakni perintah untuk hidup di dalam kasih (1:4-6). Kasih adalah ciri khas murid Kristus yang harus dipraktikkan tanpa mengabaikan kebenaran. Menerapkan kasih tanpa kebenaran berarti berkompromi, sedangkan menerapkan kebenaran tanpa kasih berarti menjadi legalis. Oleh sebab itu, Rasul Yohanes mengingatkan betapa pentingnya menerapkan kasih tanpa meninggalkan kebenaran yang telah dipegang teguh. Kedua hal ini menjadi benteng pertahanan yang dapat menolong anggota jemaat dalam menghadapi berbagai ajaran sesat. Apakah hidup Anda telah sungguh-sungguh dilandasi oleh kebenaran dan kasih? Apakah kasih yang Anda tunjukkan kepada orang lain telah dilandasi oleh kebenaran firman atau justru mengurbankan kebenaran demi menjaga hubungan dan agar diterima oleh orang lain?