Menghadapi Para Penyesat dalam Gereja
Surat Yudas ditulis di antara tahun 65-80, saat umat Kristen yang sedang berkembang menghadapi ancaman penganiayaan dan penyesatan. Situasi yang dihadapi saat itu mirip dengan situasi yang dihadapi saat penulisan Surat 2 Petrus (bandingkan Yudas 1:17-18 dengan 2 Petrus 3:3). Penulis surat ini, yaitu Yudas, menyebut dirinya sebagai "hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus" (Yudas 1:1). Menurut tradisi, Yudas dan Yakobus adalah saudara (adik) tiri Yesus Kristus (lihat Markus 6:3). Mereka mula-mula tidak memercayai Tuhan Yesus (Yohanes 7:5), tetapi kemudian menjadi percaya, bahkan menjadi pemimpin-pemimpin gereja setelah Kristus bangkit dari kematian. Perubahan sikap mereka terlihat dari penyebutan diri mereka sebagai "hamba Yesus Kristus". Surat Yudas ini ditujukan kepada orang-orang Kristen--Yahudi maupun non-Yahudi--yang mengenal tradisi Yahudi dan Perjanjian Lama. Yudas menasihati mereka agar berjuang mempertahankan iman dan mewaspadai guru-guru palsu yang giat menyebarkan ajaran sesat (Yudas 1:3-4).
Surat Yudas ditulis untuk mendorong jemaat agar tetap berjuang mempertahankan iman saat berhadapan dengan para penyesat yang menyusup ke dalam gereja dan menghasut para anggota jemaat untuk menyalahgunakan anugerah Allah guna melampiaskan hawa nafsu mereka. Para penyesat itu juga menyangkal ke-Tuhan-an Yesus Kristus (1:4). Penulis Surat Yudas memakai beberapa contoh praktik dosa dalam Perjanjian lama yang mendatangkan hukuman Allah, yaitu dosa homoseksual yang dilakukan oleh penduduk kota Sodom dan Gomora (1:7; bandingkan dengan Kejadian 19:1-24), penyesatan yang dilakukan Bileam yang menyebabkan terjadinya kawin campur antara umat Israel dengan bangsa kafir (Yudas 1:11; bandingkan dengan Bilangan 22-25 dan Wahyu 2:14), serta pemberontakan Korah yang menolak keimaman Musa (Yudas 1:11; bandingkan dengan Bilangan 16:1-35).
Dalam Surat Yudas, penulis melakukan satu hal yang unik, yaitu mengutip sebuah sumber di luar Alkitab yang tergolong sebagai salah satu kitab Apokrifa, yaitu 1 Henokh 1:9 yang bisa diterjemahkan sebagai berikut, "Lihatlah! Dia datang dengan sepuluh ribu orang kudus-Nya untuk menghakimi semua orang, dan membinasakan semua orang fasik, dan menghukum semua perbuatan daging yang dilakukan orang berdosa yang fasik terhadap Dia." (bandingkan dengan Yudas 1:14-15). Walaupun Surat 1 Henokh mengandung nubuat yang kemudian dikutip dalam Surat Yudas, hal-hal lain yang ditulis dalam surat itu membuat surat tersebut tidak diterima sebagai bagian dari kitab Suci Kristen. [GI Purnama]
Berjuang Mempertahankan Iman
Senin, 12 Oktober 2026
Bacaan Alkitab hari ini:
Yudas 1
Yudas, penulis surat yang merupakan bacaan Alkitab hari ini, memperkenalkan dirinya sebagai hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus (1:1). Menurut tradisi, diyakini bahwa Yudas dan Yakobus adalah saudara (adik) tiri Yesus Kristus (Markus 6:3). Mereka semua dilahirkan dari rahim Maria. Akan tetapi, Yesus Kristus dikandung karena pekerjaan Roh Kudus yang tentu saja tidak bisa kita pahami prosesnya dengan nalar kita, sedangkan Yudas dan Yakobus dikandung secara normal dari hubungan Maria dan Yusuf. Saat Yesus Kristus masih melayani dengan wujud fisik sebagai Manusia, Yudas dan Yakobus tidak memercayai Yesus Kristus. Akan tetapi, sesudah Kristus wafat di kayu salib, mereka berdua dan menjadi percaya, bahkan mereka menjadi pemimpin-pemimpin gereja yang setia. Pengalaman masa lalu membuat mereka amat bersemangat menjaga iman orang-orang percaya agar tidak disesatkan oleh para pengajar sesat. Salam di awal surat ini memperlihatkan bahwa Yudas mendoakan agar orang-orang percaya itu melimpah dalam rahmat, damai sejahtera, dan kasih (1:2).
Rahmat atau belas kasihan Allah itu penting untuk dipahami secara utuh. Allah berbelaskasihan kepada orang berdosa, tetapi hal itu tidak berarti bahwa Allah tidak mempersoalkan masalah dosa. Para pengajar palsu memelesetkan anugerah Allah dan mempraktikkan serta mengajarkan bahwa anugerah Allah membuat mereka bebas melampiaskan hawa nafsu tanpa merasa perlu takut terhadap hukuman Allah, padahal anugerah Allah seharusnya membuat mereka berusaha menjauhi dosa. Ajaran kasih dalam kekristenan bukan ajaran untuk mengumbar hawa nafsu dengan kedok kasih! Pada masa itu, sama seperti pada zaman Sodom dan Gomora (Kejadian 19), para pengajar sesat menganggap tubuh itu tidak penting, sehingga seks bebas, bahkan hubungan homoseksual diizinkan. Perilaku seks menyimpang di kota Sodom dan Gomora telah mengundang hukuman api kekal sebagai peringatan kepada semua orang, bukan hanya pada masa Perjanjian Lama, tetapi juga pada masa Perjanjian Baru, bahkan menjadi peringatan bagi kita saat ini! Mengikuti ajaran para guru palsu sama seperti mengikuti jalan yang ditempuh Kain yang tidak mengindahkan kehendak Allah. Mengikuti ajaran para guru palsu juga seperti mengikuti jebakan kesesatan Bileam yang membuat umat Allah meninggalkan penyembahan kepada Allah yang benar. Penulis Surat Yudas mengingatkan bahwa Tuhan akan datang bersama dengan beribu-ribu malakat kudus-Nya untuk menghukum orang-orang berdosa yang tidak peduli terhadap kehendak Allah. Apakah Anda sudah mewaspadai berbagai ajaran sesat yang berusaha menyelewengkan iman Anda?