Mazmur 108 adalah mazmur yang unik karena isinya memiliki kesamaan dengan Mazmur 57 dan Mazmur 60. Secara spesifik, Mazmur 108:2-6 sama dengan Mazmur 57:8-12, dan Mazmur 108:7-14 sama dengan Mazmur 60:7-14. Meskipun Mazmur 108 dikaitkan dengan Daud, karena ada judul Mazmur Daud, namun Mazmur ini kemungkinan besar adalah Mazmur yang ditulis oleh penulis lain yang mengaitkan Mazmur ini dengan Daud. Kelihatannya, pemazmur mengalami pergumulan yang sama dengan apa yang dialami di Mazmur 57 dan 60, sehingga ia memakai Mazmur 57 dan 60 untuk memohon keselamatan dan kemenangan. Pergumulan yang dialami berkaitan dengan bangsa Moab dan Edom (108:10). Pemazmur percaya, bahwa Allah yang dulu memberi kemenangan kepada Daud juga akan menolong umat-Nya ketika mereka mengalami pergumulan yang sama. Pemazmur percaya bahwa Allah lah yang Empunya semua wilayah di Israel, termasuk Moab dan Edom (108:8-10). Ia adalah Allah yang berkuasa atas Israel dan bangsa-bangsa lain, sehingga tepat sekali jika pemazmur mencari pertolongan kepada Allah. Pemazmur mengatakan bahwa penyelamatan dari manusia adalah sia-sia (108:13).
Keyakinan pemazmur pada penyelamatan Allah berakar dari kepercayaannya bahwa Allah itu Setia (108:5). Allah yang dikenal oleh pemazmur adalah Allah yang tidak berubah kasih setia-Nya. Jika di masa lalu, Allah menolong umat-Nya yang sedang menghadapi serangan bangsa lain, maka di masa pemazmur pun, Allah akan menolong dan menyelamatkan umat-Nya. Keyakinan inilah yang membuat pemazmur terus berharap kepada Allah. Pemazmur tidak menjadi lemah ketika menghadapi pergumulan, tetapi ia justru tetap dapat memuji dan memuliakan Allah (108:2-6).
Allah yang setia itu selalu menepati janji-Nya. Dahulu, Ia menyertai dan memberkati umat-Nya. Di masa kini pun, Ia adalah Allah yang sama. Bahkan, Allah membuktikan kasih setia-Nya dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus yang disebut Imanuel, untuk menyertai umat-Nya sampai selama-lamanya. Mengapa kita sering meragukan kasih setia Allah? Kita ragu-ragu karena hati kita sering berubah-ubah. Hati kita tidak teguh berpaut kepada-Nya. Kondisi buruk di sekitar kita mempengaruhi hati kita. Kekhawatiran kita membuat kita meragukan kebaikan Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita belajar seperti pemazmur yang mengulang firman Tuhan dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan agar kita tetap percaya. Apakah Anda yakin bahwa Allah itu setia? Apakah Anda masih setia kepada Allah sampai saat ini?