Pertanyaan, "Di manakah Allah mereka?" diajukan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (115:2). Pertanyaan yang polos dan sederhana ini terlontar karena Allah memang tidak dapat dilihat, sedangkan bangsa-bangsa lain menyembah ilah yang dapat dilihat. Ilah-ilah bangsa-bangsa lain yang dibuat dengan tangan manusia itu umumnya berbentuk patung yang memiliki indra--mata, hidung, mulut, telinga, tangan--tetapi semua indra mereka itu tidak dapat dipakai karena mereka hanya patung yang tidak bernyawa (115:4-7). Meskipun dibuat dari emas dan perak, patung-patung itu tidak bernilai dalam arti tidak mendatangkan manfaat bagi para pemujanya. Pemazmur menjawab pertanyaan bangsa-bangsa itu dengan perkataan, "Allah kita ada di surga!" (115:3a). Allah Israel itu ada di tempat yang kudus dan mulia, dan "Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya." (115:3b). Artinya, Allah adalah Pribadi yang Hidup, yang Bebas, Berdaulat, dan tidak dapat diatur oleh siapa pun. Keberadaan Allah Yang Hidup sebagai Roh tidak dapat dilihat oleh manusia. Sekalipun demikian, Tuhan Yesus juga pernah mengatakan bahwa manusia yang suci hatinya akan melihat Allah (Matius 5:8). Manusia hina yang berdosa dan belum mengalami penebusan di dalam Kristus tidak dapat melihat Allah yang Kudus.
Meskipun Allah tidak dapat dilihat, pekerjaan dan perbuatan-Nya nyata dan ajaib. Ia membuktikan kuasa-Nya dengan membawa umat Israel keluar dari Mesir. Kebesaran-Nya tidak dapat disangkal. Tidak ada yang dapat bertahan menghadapi Allah kita. Bahkan, di pasal sebelumnya, dijelaskan bahwa alam semesta itu takut kepada-Nya. Setelah membandingkan Allah dengan ilah, pemazmur meneguhkan iman umat TUHAN dengan menyerukan agar mereka senantiasa percaya kepada-Nya (115:9-11). Jangan sampai mereka dipengaruhi oleh bangsa-bangsa di sekitar mereka dan memercayai ilah-ilah yang tidak dapat menolong mereka. Kita tahu bahwa setelah memasuki Tanah Perjanjian, umat TUHAN berulang kali jatuh ke dalam penyembahan ilah-ilah yang disembah oleh bangsa-bangsa di sekitar mereka. Pemazmur menutup mazmur ini dengan kalimat berkat. Berkat itu datangnya dari Allah semata (115:12-15), bukan dari ilah atau patung yang tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, pujian dan kemuliaan harus ditujukan hanya bagi Allah saja (115:1, 17-18). Apakah Anda sungguh-sungguh memercayai Allah yang tidak dapat dilihat oleh mata itu? Apakah Anda sudah merespons perbuatan Allah dengan memuliakan Dia setiap saat? Apakah Anda sudah memercayakan hidup Anda kepada TUHAN? Apakah Anda sudah menceritakan perbuatan Allah yang ajaib kepada orang lain?