"Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah."
-- Efesus 2:8
Tidak ada gambaran yang lebih jelas tentang kondisi manusia tanpa Kristus selain Efesus 2:1 - "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu." Kita bukan sekadar lemah secara rohani--kita mati. Mati berarti tidak mampu menolong diri, tidak bisa mendekat kepada Allah, dan tidak punya daya untuk hidup benar. Tetapi di sanalah kabar baik Injil berbicara paling kuat: "Tetapi Allah ...." (2:4). Dua kata itu membelah sejarah manusia: dari kematian menuju kehidupan.John Stott menulis, "Grace is love that cares and stoops and rescues." (Anugerah adalah kasih yang peduli, turun tangan, dan menyelamatkan). Anugerah itu luar biasa karena Ia mengasihi orang yang tidak layak dikasihi. Ada yang menganggap anugerah itu sebagai skandal karena anugerah itu menghancurkan seluruh logika meritokrasi manusia. Dunia berkata, "Engkau harus pantas untuk diterima." Akan tetapi, Allah berkata, "Engkau diterima dahulu, baru dipulihkan untuk menjadi pantas." Di setiap zaman, gereja selalu punya kecenderungan halus untuk mencampur anugerah dengan kebanggaan diri. Kita berkata, "Ya, itu anugerah Tuhan," tetapi diam-diam kita masih percaya bahwa Tuhan menolong kita karena kita sudah berbuat baik, sudah melayani, atau sudah mendoakan dengan serius. Anugerah sejati akan selalu menghasilkan kerendahhatian, bukan kesombongan rohani. Ketika gereja berhenti menyadari bahwa ia diselamatkan hanya oleh kasih karunia, gereja akan menjadi seperti orang Farisi yang berdiri tegak sambil berdoa, "Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain." (Lukas 18:11). Namun, di hadapan Allah, tidak ada seorang pun yang bisa berdiri karena jasanya sendiri. Satu-satunya alasan kita bisa menyebut Dia "Bapa" adalah karena kasih karunia.
Di zaman ini, banyak gereja lebih mirip self-improvement center (tempat memperbaiki diri) daripada tempat orang berdosa diselamatkan oleh kasih karunia. Injil sering dipandang sebagai produk yang dijual, bukan anugerah yang diberitakan. Kebangunan rohani sejati dimulai saat gereja berlutut dan berkata: "Tuhan, kami bukan apa-apa tanpa anugerah-Mu." Apakah Anda selalu ingat bahwa keselamatan hanya bisa Anda peroleh karena kasih karunia Allah, dan kesadaran itu membuat Anda hidup dengan rendah hati dan melayani dengan kasih sejati?