Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.
-- Kisah Para Rasul 4:12
Saat Petrus berdiri di hadapan Mahkamah Agama dan menyatakan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, ia mengucapkan kata-kata yang menabrak relativisme zamannya. Dunia Romawi penuh dengan dewa-dewi dan filsafat yang menjanjikan keselamatan dengan berbagai cara, tetapi Petrus dengan berani menyatakan, Tidak ada nama lain ...! Pernyataan seperti ini bisa dianggap bersifat subversif (berusaha menjatuhkan kekuasaan yang dianggap sah). Dunia modern membenci klaim eksklusif! Kata-kata seperti hanya Kristus dianggap intoleran. Banyak orang lebih suka menganggap Kristus sebagai guru moral, motivator spiritual, atau simbol kasih universal, bukan satu-satunya Juruselamat. Gereja kadang-kadang tergoda untuk melunakkan pesan Injil agar mudah diterima. Namun, Reformasi mengingatkan bahwa Kristus adalah pusat dari segala sesuatu. John Calvin menulis, Kita melihat bahwa seluruh keselamatan kita dan semua bagiannya tercakup dalam Kristus. Karena itu, kita harus berhati-hati agar tidak mengambil sedikit pun darinya dari tempat lain. (Institutes, II.16.19). Gereja sejati selalu Christ-centered, bukan program-centered, leader-centered, atau trend-centered. Namun, gereja masa kini sering amat sibuk membangun brand, bukan memberitakan Kristus.
Reformasi mengingatkan bahwa gereja yang tidak memberitakan Kristus bukanlah gereja. Luther menulis, Gereja hidup di tempat firman Tuhan diberitakan dengan benar dan sakramen-sakramen diberikan dengan benar. Dengan kata lain, pusat kehidupan gereja bukan aktivitas, melainkan Kristus yang hadir dan bekerja melalui firman dan sakramen. Di kayu salib, Kristus berkata, Sudah selesai. (Tetelestai). Kata itu berarti bayaran lunas, karya sempurna, tidak perlu ditambah. Semua sistem keagamaan yang menambahkan syarat pada Injil adalah bentuk pelecehan terhadap karya Kristus! Spirit sejati dari Reformasi bukan hanya soal teologi, tetapi tentang return to Christ-centeredness (menempatkan Kristus kembali di pusat kehidupan). Gereja yang terus diperbarui adalah gereja yang terus kembali menatap wajah Kristus, bukan diri sendiri, seusai dengan yang tertulis di Kolose 2:3, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Apakah Kristus sudah menjadi pusat hidup Anda dan gereja Anda?