"Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku... Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."
-- Wahyu 3:15-16
Reformasi abad ke-16 menyingkap kegelapan doktrin dan penyalahgunaan kuasa, sedangkan reformasi abad ke-21 menyingkap kelesuan rohani dan kompromi duniawi di dalam gereja. Gereja modern berada di persimpangan: Apakah gereja akan kembali kepada semangat Sola Scriptura dan Soli Deo Gloria, atau larut dalam budaya yang menukar kemulaan Allah dengan popularitas manusia. John Stott menulis dengan getir, "Masalah terbesar gereja bukan pada dunia yang tidak percaya, tetapi pada gereja yang tidak berbeda dengan dunia." (Stott, The Contemporary Christian). Laodikia adalah kota yang makmur, pusat perdagangan dan teknologi medis zaman itu. Gereja di sana tidak sesat secara teologis, tetapi mati secara rohani. Mereka merasa "kaya", tetapi Tuhan berkata, "Engkau melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang" (3:17). Bukankah itu cermin banyak gereja pada masa kini? Banyak gereja yang punya gedung megah, sistem modern, dan program kreatif, tetapi kehilangan hadirat Allah yang kudus. Martin Luther menulis, "Ketika Injil tidak lagi menyentuh hati dan mengubah hidup, maka ia hanya menjadi hiasan di bibir dan tradisi yang mati." Kristus tidak menegur Gereja Laodikia karena ketidaktahuan mereka, tetapi karena ketiadaan gairah rohani. Ia mengetuk pintu, tetapi dibiarkan di luar. Inilah gambaran paling tragis dalam seluruh Alkitab: Kristus di luar gereja-Nya sendiri.
Himbauan Kristus, "Bertobatlah!" bukan untuk orang fasik saja, tetapi juga untuk orang percaya, untuk gereja-Nya! Reformasi sejati tidak dimulai dari dunia, tetapi dari pengakuan dosa gereja. Gereja reformasi abad ke-16 berdiri melawan arus besar kekuasaan, ketakutan, dan kebiasaan duniawi. Gereja pada masa kini dipanggil untuk hal yang sama, dengan konteks berbeda. Dunia tidak memenjarakan tubuh, tetapi meninabobokan jiwa, sehingga reformasi belum selesai. Apakah Kristus masih menjadi pusat gereja Anda atau sudah terganti oleh kesibukan pelayanan? Apakah hati Anda berkobar bagi Tuhan, atau suam-suam kuku? Apakah Anda mempersilakan Kristus memerintah, membersihkan, dan memperbarui hidup Anda? Reformasi sejati tidak berakhir di abad ke-16, tetapi terus berdenyut di hati setiap orang yang berkata, "Tuhan, perbaharuilah gereja-Mu, mulai dari aku."