Meskipun Rumah TUHAN menjadi simbol kehadiran TUHAN di tengah umat-Nya, pemazmur menyadari bahwa Allah bersemayam di surga. Tidak ada tempat di dunia ini yang dapat "menampung" Allah. Ia mengatasi langit dan bumi. Di tengah masalah yang sedang dihadapi oleh pemazmur, ia melayangkan matanya kepada Allah (123:1). Ingatlah bahwa kata "melayangkan" berarti mengangkat mata dan menujukan fokus kepada Allah. Pemazmur tidak menujukan fokusnya kepada masalah dan keadaan yang ia hadapi, tetapi ia menetapkan hati untuk memandang kepada Allah. Di ayat 2 juga ditambahkan bahwa pandangan mata pemazmur seperti mata para hamba laki-laki yang tertuju kepada tangan tuannya, dan seperti mata para hamba perempuan yang tertuju kepada tangan nyonyanya. Demikianlah pemazmur menujukan matanya kepada TUHAN, sampai Allah mengasihani mereka. Artinya, ketika menghadapi pergumulan, pemazmur hanya mengandalkan TUHAN. Ia tidak mencari pertolongan ke pihak lain karena ia tahu bahwa pertolongan sejati hanya datang dari surga. Di dalam pergumulannya, pemazmur tidak sendiri, melainkan ia bersama-sama dengan sesama orang percaya yang sedang mengalami pergumulan. Pergumulan mereka adalah mendapat penghinaan dari orang-orang angkuh (123:3-4).
Doa permohonan pemazmur dinaikkan dengan rendah hati. Pemazmur tidak memaksa TUHAN untuk segera menjawab dan mengabulkan doanya. Akan tetapi, ia menunggu bagaikan seorang hamba yang menantikan belas kasihan tuan dan nyonyanya. Pemazmur menyadari bahwa ia juga merupakan seorang hamba yang hidup dari belas kasihan TUHAN. Yang menarik, pemazmur tidak menjadi kecewa atau menjadi jemu berdoa, meskipun TUHAN belum menolong dia. Ia tetap tekun berdoa sampai TUHAN menganugerahkan belas kasihan dan menolong dirinya.
Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari bacaan Alkitab hari ini: Pertama, pemazmur tidak mencari pertolongan dari pihak lain saat ia mengalami pergumulan. Kedua, pemazmur tidak jemu berdoa, sampai Tuhan menolongnya melewati pergumulannya. Ketiga, pemazmur hanya fokus memandang kepada TUHAN ketika ia menghadapi pergumulan. Keempat, pemazmur menyadari siapa dirinya ketika berhadapan dengan TUHAN. Ia hanyalah hamba yang mengharapkan belas kasihan TUHAN. Bagaimana cara Anda berdoa selama ini: Saat menghadapi persoalan, apakah Anda bersikap rendah hati di hadapan TUHAN dan berharap kepada TUHAN saja? Bila Allah tidak segera menjawab dan mengabulkan doa Anda, apakah Anda tetap terus berdoa dengan tidak jemu-jemu?