Kidung Agung 5:2-6:3

Kesatuan di Dalam Pernikahan

9 Oktober 2022
Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono

Bacaan Alkitab yang kita renungkan pada hari ini menggunakan gaya bahasa eufemisme, yaitu memakai ungkapan yang lebih halus untuk menggantikan istilah yang dianggap terlalu kasar atau tidak patut disebut. Misalnya, perkataan 'bukalah pintu' (5:2) menunjuk kepada aktivitas aurat wanita, dan kata ?kepala? (5:2) menunjuk kepada aurat pria. Dengan gaya penulisan seperti itu (5:2-6) imajinasi pembaca tentang pengalaman seksual di antara mempelai pria dan wanita dibangkitkan. Sang pria berusaha mengambil inisiatif untuk memulai hubungan fisik yang intim, namun sang wanita belum siap untuk menanggapinya (5:2,3b). Sang pria akhirnya "pergi, lenyap" (5:6). Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi konflik di antara mereka berdua.

Relasi dalam pernikahan yang dikehendaki oleh Allah adalah kesatuan yang utuh di antara pria dan wanita (Kejadian 2:24). Salah satu aspek dari kesatuan dalam pernikahan adalah kesatuan fisik (Kejadian 2:24). Berdasarkan pemahaman ini, maka 5:2-6:3 juga berbicara tentang kesatuan dalam pernikahan, walau tidak secara langsung. Pria dan wanita adalah dua pribadi yang berbeda. Mengupayakan kesatuan dan memupuk relasi agar tetap hangat bukan hal yang mudah untuk dilakukan karena ada perbedaan karakter, sifat, kebiasaan, dan sebagainya yang dapat memicu konflik. Dalam keadaan ini, tindakan yang dilakukan oleh mempelai wanita dapat menjadi pelajaran bagi kita. Pertama, mempelai wanita digambarkan keluar untuk mencari mempelai prianya (5:6,7). Di sini kita dapat belajar untuk sungguh-sungguh berusaha memupuk kesatuan walaupun ada tantangan dalam melakukannya. Kedua, mempelai wanita hanya menyebutkan aspek yang baik dari pasangannya dan tidak mengungkapkan hal-hal yang buruk (5:10-16). Secara tidak langsung, ini menyatakan bahwa si wanita memaafkan dan menerima kembali sang pria. Memaafkan menjadi kunci penting untuk mengupayakan kesatuan dalam pernikahan. Ketiga, mereka saling menjaga komitmen dalam relasi mereka (6:3).

Pernikahan adalah simbol relasi antara Kristus dengan jemaat (Efesus 5:32). Mereka yang telah menikah harus terus memupuk relasi di antara mereka. Apa yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kesatuan dalam pernikahan kita? Bagaimana kita dapat mendidik orang lain--khususnya kaum muda--agar mengupayakan kesatuan dalam pernikahan mereka kelak?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design