Lukas 18:28-43

Menggenapi Kehendak Allah

3 April 2025
GI Purnama

Melaksanakan kehendak Allah tidak selalu enak atau menyenangkan menurut ukuran dunia ini. Akan tetapi, bila kita melihat dari sudut pandang Allah, kehendak Allah selalu baik! Risiko yang harus dipikul seseorang yang hendak mengikut Kristus berbeda-beda bagi yang seorang dan bagi yang lain. Iman kepada Kristus bisa dipandang oleh keluarga terdekat kita sebagai sikap "membenci" atau sikap "meninggalkan" mereka (14:26; 18:29). Mungkin saja, seseorang yang memutuskan untuk mengikut Kristus harus kehilangan harta benda atau disingkirkan oleh keluarga. Sekalipun demikian, orang seperti itu akan memperoleh penghiburan dari Tuhan, dan penghiburan itu lebih berharga daripada kehilangan yang ia alami. Penghiburan seperti ini tidak selalu dimengerti oleh dunia ini. Perlu diingat bahwa perkataan, "meninggalkan rumah, atau istri, atau saudara, atau orang tua, atau anak-anaknya," (18:29) bukanlah pembenar untuk bersikap tidak peduli terhadap keluarga, apa lagi untuk menjadi alasan bercerai!

Bila Anda harus menghadapi risiko yang berat karena Anda mengikut Kristus, Anda harus mengingat bahwa bagi Tuhan Yesus, melaksanakan kehendak Allah untuk menggenapi nubuat para nabi berarti menghadapi penderitaan yang memuncak pada kematian di kayu salib, lalu disusul dengan kebangkitan dari kematian (18:31-34). Bagi para murid saat itu, ketaatan yang berwujud menjalani penderitaan itu tak dapat dimengerti (18:34). Para murid baru bisa memahami hal itu secara perlahan-lahan setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian dan berulang kali menampakkan diri kepada mereka.

Sekalipun Tuhan Yesus sedang menghadapi puncak penderitaan yang berat di kayu salib, sikapnya tidak berubah. Kasih-Nya tidak goyah. Saat seorang buta memohon belas kasihan dan meminta Tuhan Yesus menolong agar dia bisa melihat kembali, Tuhan Yesus mencelikkan mata orang itu. Beban berat di kayu salib tidak membuat dia mengabaikan orang buta itu! Sikap Tuhan Yesus itu mengingatkan umat Tuhan yang sedang menghadapi berbagai pergumulan agar tetap setia melayani. Janganlah beban kehidupan yang kita alami membuat kita terlalu mengasihani diri sendiri, sehingga kita mengabaikan orang lain yang memerlukan bantuan kita. Bila kita menghadapi beban berat, ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah lebih dahulu memikul beban yang lebih berat untuk kepentingan kita, yaitu dengan menjalani penderitaan yang memuncak pada kematian di kayu salib. Apakah Anda sudah bertekad untuk mengabdikan hidup Anda guna melaksanakan kehendak Allah? Saat Anda memikul beban berat dalam kehidupan Anda, apakah Anda tetap setia melaksanakan kehendak Allah?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design