Zakheus adalah pemungut cukai yang kaya dan berbadan pendek. Dia sadar bahwa profesinya sebagai pemungut cukai membuat ia dianggap sebagai sampah masyarakat. Dia ingin melihat Tuhan Yesus, tetapi ia pendek sehingga ia sukar melihat Tuhan Yesus yang dikerumuni oleh orang banyak. Ia tidak berani meminta orang lain memberi jalan karena ia sadar bahwa dirinya dibenci oleh orang banyak. Oleh karena itu, ia memanjat pohon ara supaya bisa melihat Tuhan Yesus. Dia tidak menyangka bahwa Tuhan Yesus menghargai ketulusannya, sehingga Ia meminta Zakheus turun dan Ia memberi tahu rencana-Nya untuk menumpang di rumah Zakheus. Keputusan Tuhan Yesus ini membuat banyak orang bersungut-sungut. Akan tetapi, hati Zakheus sangat tersentuh dan ia membuat keputusan yang radikal untuk menunjukkan bahwa ia telah bertobat! Ia berjanji untuk mendonasikan setengah hartanya guna membantu orang miskin. Ia juga berjanji untuk memberikan ganti rugi empat kali lipat kepada orang yang pernah ia peras. Pertobatan radikal seperti ini sangat jarang terjadi. Tidak ada catatan dalam Alkitab tentang orang kaya—dari keluarga baik-baik—yang mengungkapkan perubahan hidup seperti ini ketika bertobat.
Perumpamaan tentang uang mina yang diberikan kepada sepuluh orang hamba menunjukkan adanya perbedaan sikap saat para hamba itu menerima tanggung jawab untuk berdagang dalam situasi dan kesempatan yang sama. Mina adalah mata uang Yunani yang nilainya 100 dinar, kira-kira 4 bulan gaji—atau gaji harian selama 100 hari—dengan ketentuan 6 hari kerja seminggu. Dua orang hamba yang pertama bersungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan untuk berdagang dan masing-masing memperoleh keuntungan 10 mina dan 5 mina, sehingga mereka mendapat pujian dan hadiah. Akan tetapi, hamba yang ketiga menyimpan mina yang diberikan kepadanya dalam sapu tangan sehingga ia tak memperoleh keuntungan sama sekali. Perhatikan bahwa hamba tersebut disebut sebagai hamba yang jahat! Kisah para hamba yang diberi modal untuk berdagang ini mengingatkan umat Tuhan bahwa saat Tuhan Yesus datang kembali untuk yang kedua kali, kita akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan saat menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Bila kita seperti Zakheus yang amat menghargai anugerah Allah yang telah ia terima, kita akan berusaha sungguh-sungguh melaksanakan tugas yang diamanatkan Allah kepada kita. Akan tetapi, bila kita menolak atau tidak menghargai anugerah Allah, kita akan bersikap pasif dan akan menerima hukuman. Apakah Anda telah menerima anugerah Allah dan Anda telah berusaha melaksanakan rencana Allah bagi diri Anda?