Pernahkah Anda merasa seperti hidup di medan perang? Medan perang ini bisa muncul dalam lingkup keluarga, pekerjaan, bahkan lingkup bergereja. Kondisi seperti ini jelas akan membuat kita merasa lelah. Sekalipun merasa lelah, kita mungkin tidak mau atau tidak berani menyerah. Kita terus berjuang, tetapi mungkin kita tidak merasa tenteram. Mengapa kondisi seperti ini bisa terjadi? Sadarilah bahwa ketenteraman bukan muncul bila tidak ada masalah, tetapi muncul bila kita setia dan mengandalkan TUHAN. Inilah yang terlihat dalam bacaan Alkitab hari ini, yaitu kisah tentang Raja Asa. Di awal pemerintahannya, Raja Asa menyingkirkan mezbah-mezbah asing dan bukit-bukit pengorbanan yang selama ini digunakan orang Yehuda untuk menyembah berhala (14:3-5). Saat kerajaan Yehuda menghadapi ancaman serangan tentara Etiopia, Raja Asa berseru kepada Tuhan meminta pertolongan, dan TUHAN menolong (14:9-12). Raja Asa melakukan pembaruan rohani secara menyeluruh dengan menyingkirkan semua patung berhala, termasuk milik nenek Raja Asa yang turut disingkirkan (15:16). Kesetiaan Raja Asa kepada TUHAN menghasilkan ketenteraman, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi kerajaan Yehuda yang ia pimpin. Bahkan, melalui nabi Azarya, TUHAN memastikan bahwa Ia menyertai Raja Asa dan Ia berkenan ditemui oleh Raja Asa (15:2). Inilah hak yang amat istimewa yang diberikan Tuhan kepada Raja Asa.
Semua yang dilakukan oleh Raja Asa ini merupakan wujud dari kesetiaannya kepada TUHAN. Perhatikan bahwa setia kepada Tuhan berarti memilih untuk tetap percaya dan lebih mengasihi TUHAN di antara semua pilihan yang kita hadapi. Dalam hidup ini, mungkin kita bisa diperhadapkan pada berbagai pilihan yang menyenangkan dan menarik, tetapi sadarilah bahwa tidak ada yang lebih penting dan lebih baik daripada tetap setia kepada TUHAN, sekalipun kita mungkin mengalami penolakan. Apakah setia kepada TUHAN itu mudah? Tidak! Setia kepada TUHAN bisa berarti bahwa hidup kita mungkin akan penuh dengan pergumulan, tantangan, dan kesulitan saat melawan keinginan daging yang bertentangan dengan keinginan Allah. Agar bisa hidup dalam ketaatan, kita harus bersandar kepada anugerah Tuhan yang akan memampukan kita untuk belajar menaati TUHAN. Kita harus bergumul untuk tetap taat saat menghadapi hal-hal yang sering membuat kita jatuh, gagal, bahkan memberontak kepada Allah. Pergumulan itu merupakan jalan yang dipakai TUHAN untuk menuntun kita menjalani proses menjadi seorang yang taat. Apakah selama ini, Anda telah menyerahkan hidup Anda untuk dibimbing TUHAN dalam ketaatan, sehingga Anda bisa menikmati ketenteraman?