Bayangkan sebuah pernikahan yang diawali dengan komitmen, janji setia, dan kegembiraan. Namun, salah satu dari pasangan itu kemudian diam-diam mencari perhatian, pujian, kenyamanan, dan kedekatan emosional dengan orang lain melalui chat, media sosial, atau hubungan rahasia. Secara status, ia masih "setia", tetapi hatinya sudah tidak sepenuhnya utuh dan murni tertuju kepada pasangannya. Itulah gambaran Yehezkiel 23. Secara identitas, Israel adalah umat TUHAN. Akan tetapi, hatinya terpikat pada "kekasih lain". Kesetiaan dan kepercayaan mereka tidak lagi tertuju sepenuhnya kepada Allah. Perzinaan rohani adalah pengkhianatan terhadap relasi antara TUHAN dan umat-Nya. Dua gambaran perempuan dan dua nama yang dipilih memiliki makna teologis yang penting: Ohola berarti "kemahnya sendiri" dan Oholiba berarti "kemah-Ku ada di dalamnya". Kata kunci "kemah" (’ohel), sangat penting dalam teologi Perjanjian Lama karena berkaitan dengan Tabernakel (Kemah Suci) dan hadirat Allah di tengah umat-Nya. Jadi, kedua nama ini berkaitan dengan kehadiran Allah. Ohola melambangkan Samaria yang membangun sistem ibadah sendiri (1 Raja-raja 12) untuk menggantikan pusat penyembahan yang sah di Yerusalem, dan tidak tunduk kepada wahyu Allah. Ini bukan sekadar penyimpangan kecil, tetapi otonomi rohani yang menggantikan Allah dengan versi yang mereka ciptakan. Oholiba melambangkan Yerusalem yang memiliki Bait Allah dan kehadiran-Nya secara nyata. Secara teologis, mereka memiliki akses yang benar kepada Allah. Sayang, mereka sama-sama jatuh ke dalam dosa yang menjijikkan hati Allah dan tidak setia. Bahkan, Oholiba lebih jahat daripada Ohola! Secara religius, sejak awal, mereka telah "berzina di Mesir", yaitu membiarkan budaya dan penyembahan berhala Mesir memikat mereka. Secara politis, mereka beraliansi dengan Asyur (Ohola), serta Babel dan Mesir (Oholiba). Ketergantungan politik mereka untuk mencari rasa aman, perlindungan, dan masa depan identitas mereka menunjukkan ketidakpercayaan kepada Allah.
Bacaan Alkitab hari ini memperlihatkan bahwa dosa bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi pengkhianatan relasi, yaitu meninggalkan Pribadi yang mengasihi kita. Hati manusia cenderung mencari "kekasih lain" berupa kekuatan, keamanan, penerimaan, yang perlahan menempati posisi Allah di pusat hidup. Di tengah ketidaksetiaan, Injil memberi pengharapan. Walaupun kita tidak setia, Allah tetap setia, dan Kristus datang menebus umat yang tidak setia. Apa yang mencuri kasih Anda kepada Allah? Apakah Anda mencari keamanan dari hal-hal lain yang bukan Tuhan? Apakah Anda sedang membangun "aliansi lain" dalam hidup? Perhatikan bahwa Allah sedang menilai arah cinta Anda!